Media MWC NU Turi | Patut diacung jempol MWC NU Turi melestarikan tradisi makan talaman, hal ini terlihat setelah menggelar rapat Tim Pendampingan persiapan Musran (Musyawarah Ranting) se Kecamatan Turi secara serentak, Minggu (7/12/2025).
Tampak seusai rapat berjam-jam ini para peserta rapat langsung disuguhi makan talaman nasi kebuli (orang Gresik bilang sego blawu lengseran).
Menariknya di sela-sela makan bersama talaman Sang Kyai MWCNU Turi yaitu KH Choiri MA memberikan ijasah "Nawaitu Syifa Bibarokatil Musthofa".
"Kalau sesudah makan kemudian minum jangan lupa baca;
نويت شفاء ببركة المصطفے سيدنا محمد صلے اللہ عليہ وسلم
"Nawaitu Syifa Bibarokatil Musthofa sayyidina Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam", ujar Kyai Aziz Choiri salah satu fungsionaris Syuriah MWCNU Turi.
Dijelaskan selain do'a tersebut bisa sebagai obat (sehatkan badan), juga dapat menghilangkan sesuatu yang sifatnya (ada mudhorot) di dalam minuman itu akan hilang dengan (ikhtiar) do'a ini.
Mendengar penjelasan beliau peserta rapat, tampak dari mereka menyimak dengan seksama sambil menikmati hidangan makan talaman nasi kebuli rasa mantap "Qobiltu Yai", " Saya Terima ijasahnya,".
Dalam saintifik meskipun secara fisik air putih hanyalah zat biasa, tapi air juga dipercaya bisa menjadi medium yang membawa kesembuhan. Seorang ilmuwan, Dr. Masaru Emoto, lewat bukunya yang berjudul Hidden Message in Water, menjelaskan bahwa air punya sifat bisa "mendengar" kata-kata, bisa "membaca" tulisan, bisa "mengerti" pesan.
Menurutnya, air bisa merekam pesan layaknya pita magnetik atau compact disk. Ketika pemberi pesan memiliki konsentrasi yang kuat, maka pesan akan semakin dalam tercetak di dalam air.
Dalam konteks ini, air bisa mentransfer pesan melalui molekul air yang lain. Jadi, jika dibacakan doa kebaikan dari agama apa pun, maka molekulnya akan merespon dengan baik.
Air doa dalam Islam adalah air putih biasa yang dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an, zikir, atau doa-doa khusus oleh orang saleh (atau diri sendiri) sebagai media perantara untuk memohon kesembuhan, keberkahan, atau hajat lainnya kepada Allah subhanahu wata'ala, dan hukumnya boleh/dianjurkan selama tetap meyakini bahwa kesembuhan hakiki datang dari Allah, bukan dari airnya sendiri, menjadikannya ikhtiar spiritual yang sesuai syariat.
Sementara tradisi makan talaman terlimpah banyak keberkahan, hal ini merupakan sunnah Nabi Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wasallam dan dianjurkan seperti dalam hadis berikut ini:
أَنَّ أَصْحَابَ رَسُوْلِ الله ِ- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّا نَأْكُلُ وَلَا نَشْبَعُ. قَالَ: «فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ؟» قَالُوْا: نَعَمْ. قَالَ: «فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ، وَاذْكُرُوْا اسْمَ اللهِ، يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ». رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ.
Para sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassallam berkata, “wahai Rasulullah, kami makan tapi tak kunjung kenyang.” Beliau bertanya, “mungkin kalian makan sendiri-sendiri?” Mereka menjawab, “iya.” Beliupun bersabda, “berkumpullah dalam makanan kalian, dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan kalian akan mendapat keberkahan.” (HR. Abu Dawud). ****(mwcnuturi1926@gmail.com)
|
Media MWC NU Turi |